Pengasuhan Anak Menurut Ilmu Psikologi Perkembangan

Indonesia sekarang masih darurat ilmu pengasuhan. Menurut data yang saya peroleh dari web Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, survei yang dilakukan pada tahun 2015 Provinsi dengan adanya balita yang mendapat pengasuhan yang tidak layakangkanya berada di bawah 10 persen, hal lain yang ditemukan adalah adanya anak yang di buang, diadopsi, terjebak menjadi pekerja anak-anak, menjadi korban kekerasan, dan menjadi korban perdagangan manusia. Padahal anak adalah aset terbesar sebagai generasi muda sebuah bangsa.

 

Lalu bagaimana cara pengasuhan anak yang benar?

 

Dalam melakukan pola asuh yang benar, seorang ibu bisa melakukannya bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Dalam ilmu psikologi perkembangan dijelaskan bahwa dalam usia 14 minggu kehamilan, sel perasa yang matang akan muncul. Organ yang berhubungan dengan penciuman, pengontrol penciuman, juga berkembang dengan baik sebelum lahir (Bartoshuk & Beauchamp, 1994; Mennella & Beauchamp, 1996a). 

Janin juga merespon suara, detak jantung, dan getaran tubuh ibunya, yang menunjukkan bahwa mereka dapat mendengar dan merasa. Keintiman bayi dan suara sang ibu dapat membantu bayi ketika sudah lahir dalam menetukan lokasi makanan (Rovee-Collier, 1996). Akan tetapi banyak orang tua yang belum tentu tahu tentang hal tersebut, sehingga kebanyakan pengasuhan terjadi ketika bayi sudah lahir.

Menurut teori Erikson dalam ilmu psikologi perkembangan, ada delapan tahap perkembangan yang akan dilalui manusia selama masa hidup kita nantinya, akan tetapi saya akan membahas lima yang pokok sebagai dasarannya, yaitu:

  1. Kepercayaan vs ketidakpercayaan (satu tahun pertama kelahiran) adalah masa dimana bayi akan menentukan landasan kepercayaan pada dirinya, apakah dunia ini tempat tinggal yang baik apa tidak. Persepsi bayi sangat dipengaruhi oleh orang disekitarnya, terutama dari pengasuh. Jika bayi diperlakukan dengan baik dan penuh kasih sayang, maka mereka akan merasa aman, dan percaya kalau dunia adalah tempat tinggal yang menyenangkan.
  2. Otonomi vs rasa malu dan keragu-raguan adalah masa akhir bayi dari umur 1 sampai 3 tahun. Pada masa ini, pengasuh sebaiknya mempercayai mereka dalam memilih keputusan, dan tidak terlalu membatasi ruang gerak mereka, karena jika anak terlalu dikekang akan menjadikan mereka memiliki sifat malu dan ragu-ragu.
  3. Prakarsa vs rasa bersalah adalah tahap pada masa prasekolah. Pada masa ini, anak-anak diharapkan dapat bertanggung jawab terhadap tubuh, perilaku, dan barang-barang miliknya. Sebagai pengasuh, kita harus percaya kepada si anak, karena kalau mereka dianggap tidak bertanggung jawab, mereka akan merasa bersalah dan merasa sangat cemas.
  4.  Semangat vs rasa rendah diri adalah tahap yang berada pada masa sekolah dasar.  Ini adalah masa semanga-semangatnya dalam menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan intelektual. Masalah yang dihadapi di masa ini adalah adanya rasa rendah diri, yang membuat mereka merasa tidak kompeten dan produktif. Maka dari itulah, seorang pengasuh pada tahap ini sebaiknya bisa mengidentifikasi penyebab rendah dirinya anak, memberikan dukungan emosional, membantu anak agar dapat berprestasi, dan membantu anak dalam mengatasi masalah. Hal-hal tersebut nantinya akan menghasilkan pikiran evaluasi diri yang baik, dan menggiring pada tingginya tingkat penghargaan diri pada anak.
  5.  Identitas vs kebingungan identitas adalah fase pada masa remaja. Remaja adalah masa dimana anak mencari identitas akan siapa dirinya. Apa yang dibutuhkan remaja adalah akses terhadap berbagai kesempatan dan dukungan jangka panjang dari orang dewasa yang mengasihi mereka. Penelitian terbaru mengatakan bahwa semakin sering remaja makan malam bersama keluarganya, semakin sedikit mereka terlibat dalam masalah remaja, termasuk dalam penyalahgunaan obat terlarang (Sen, 2010).

Sebenarnya walaupun kita melahirkan seorang anak, kita tidak mungkin menghabiskan seluruh waktu untuk selalu berada mendampingi mereka. Karena anak-anak pada usia remaja akan mulai disibukkan dengan urusan-urusan mereka, dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan teman-teman sebayanya atau teman sepergaulannya. Hal tersebut akan meningkat pada awal waktu dewasa, ketika mereka tumbuh menjadi pribadi yang memasuki dunia orang dewasa, dengan berbagai tanggung jawab.

Maka dari itulah, sebagai orang tua/pengasuh, sebaiknya mengoptimalkan pemberian kasih sayang dan dukungan dengan sebaik-baiknya, karena jika salah didik, ataupun ada salah satu tahap perkembangan yang tidak dipenuhi dengan baik, mereka akan kesulitan dalam menjalani hidup. 

Apa yang terjadi di masa mudanya, akan berimbas pada hari tuanya. Mereka yang merasa tidak puas terhadap kehidupan di masa sebelumnya, cenderung akan merasa putus asa, muram, dan merasa bersalah di masa tuanya.