CEGAH KLASTER PTM PIHAK PUSKESMAS LAKUKAN SWAB RUTIN

Ditengah Pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda, Pemeritah Kabupaten Situbondo terus berupaya melakukan berbagai langkah pencegahan trbentuknya klaster baru. Salah satu langkah kongkrit adalah dilakukanya SWAB Antigen rutin bagi semua siswa Sekolah yang saat ini telah mmelaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM). Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap 1 bulan sekali, tepat pada tanggal 10 Desember 2021 seluruh siswa SDN 2 Kukusan mengikuti SWAB Antigen yang dilakukan oleh pihak Puskesmas Kendit didampingi Oleh Koramil.

Terlepas dari upaya pemerintah dalam mencegah dan memberantas penularan Covid-19 peran aktif dari seluruh elemen masyarakat juga sangatlah penting. Termasuk juga di dalamya peran serta Guru, Siswa  serta seluruh warga sekolah. Namun tak bisa dipungkiri jika berbicara lingkungan sekolah maka peran aktif dari para dewan guru sangat besar pengaruhnya.

Berdasarkan survei Gerakan Sekolah Menyenangkan, banyaknya tugas yang diberikan tidak sebanding dengan waktu pengerjaan adalah salah satu pemicu kecemasan pada murid. Hal tersebut dapat memberikan dampak negatif ketika mereka memulai transisi kembali ke sistem PTM.

Peran tenaga pendidik menjadi sangat krusial dalam mengatasi kecemasan siswa. Dan mendampingi para siswa untuk kembali beradaptasi dengan sistem PTM. Menurut Kepala Bagian Psikologi Klinis Universitas Katholik Atma Jaya,Nanda Rossalia, kesuksesan pembelajaran daring sangat tergantung dari kesiapan penyelanggara.  Selama ini yang terjadi, di awal PTM guru dan sekolah cenderung fokus mengejar materi-materi yang tertinggal selama PJJ.  Padahal yang jauh lebih penting adalah kondisi emosional dan psikologi murid. “Para guru harus sigap melihat gejala gejala emosi negatif dengan melakukan konseling secara efektif. Jadi lihat dan tes dahulu bagaimana kondisi murid-muridnya,” terang Nanda.  Melalui Webinar Basic Counseling Skill, Satkaara berupaya membantu para guru untuk mendalami kecemasan akademik. Serta metode konseling yang tepat untuk mengatasinya.

Dalam paparannya, Nanda menjelaskan guru sebagai pendamping harus berperan menjadi konselor. Artinya, mampu mendengarkan secara aktif yaitu memberikan kesempatan bagi murid untuk mengeluarkan pikiran dan perasaan mereka, lalu memberikan umpan balik. Nanda menyerabkan para guru untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat murid enggan terbuka soal kecemasan mereka. Mulai dari argumentasi, menggurui sampai menghakimi. Menurutnya konselor yang baik juga harus memiliki empati, ketulusan serta sikap menghargai nilai-nilai yang dimiliki murid apa adanya.